Kebahagiaan. Sepertinya semua orang berhak mendapatkannya. Namun intensitas kebahagiaan pada tiap orang itulah yang membedakannya. Dan utamanya adalah dimana seseorang itu meletakkan sentuhan kebahagiaan itu sendiri. Jika kita meletakkan ukuran kebahagiaan pada kebersamaan dengan orang yang kita cintai, maka intensitas kebersamaan dengannya itulah yang akan membuat kita bahagia, selebihnya kita akan merasa sakit kalau tidak bersamanya. Atau lebih sedikit dari itu, merindukannya adalah hal yang mutlak dirasai. Jika kita meletakkan kebahagiaan pada rasa kita melihat kebenaran atau tentang nasihat kebenaran, maka kita akan nyaman dengan membuminya nilai-nilai seperti itu. Dan kerusakan, sepinya amar ma’ruf nahi munkar, adalah hal yang sangat menyakitkan. Maka, kepandaian kita dalam meletakkan kebahagiaan itu disisi mana dalam ruang hati kita menjadi penting untuk kita kuasai. Agar tidak ada lagi cerita roman picisan seperti Romeo dan Juliet, Majnun dan Laila, atau seperti dalam sajak say...
sebuah lintasan pikiran tentang masa depan dan refleksi kecil atas apa-apa yang terjadi di sekelilingku.