Langsung ke konten utama

Postingan

inspiring song

Lagu, dalam berbagai literaturnya mempunyai efek yang sangat nyata bagi tumbuh kembang anak. Ada kecerdasan, ketenangan, dan juga kenyamanan ketika anak – terutama yang masih usia kandungan didengarkan lagu, terutama yang senarai dengan mozart. Tapi, sebagai seorang muslim bolehlah kita berbangga dengan Al-Qur’an yang selalu diperdengarkan kepada anak. Karena kebiasaan ini akan menular terus sampai ia dewasa kelak. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan Al-Qur’an yang mempunyai sejuta (bukan penyempitan nilai) selaksa makna, alhamdulillah ada bait-bait sya’ir lagu juga yang insya Alloh bisa menginspirasi. Diantaranya adalah lagu yang selama beberapa pekan ini sering aku perdengarkan. Sering diperdengarkan karena menurutku lagu ini sangat menginspirasi tentang semuanya. Peringatan akan fitnah dunia, penyesaalan diri, do’a kebaikan dan lain sebagainya. Karena tidak punya akun untuk upload lagu, jadi aku cukupkan untuk menuliskan liriknya saja di sini. Semoga menginspirasi…. Mewangi Bunga...

rasa sepi seorang ibu

Rasa sepi seorang ibu itu naluri yang sangat khas. Dahulu atau kini tak jauh berbeda. Bahkan tidak akan pernah sama dengan naluri dengan seorang ayah. Di tengah padatnya rutinitas kita yang sering menguasai diri kita, kita perlu sejenak berbicara dengan hati sendiri tentang seperti apakah kiranya hari ini keadaan ibu kita. Di tengah perubahan hidup yang seperti telah mengubah diri kita menjadi bukan kita yang sebenarnya, rasanya tak berlebihan bila sejenak kita perlu berbicara dengan perasaan kita, adakah rasa sepi kiranya tengah bergelayut di hati ibu kita. Suatu hari dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang gelisah melepas diri kita memasuki sungai kehidupan dengan arus yang terus bergolak, memasuki belantara kekuasan baru yang absurd. Kekuasaan yang tidak selalu datang dari tirani, kekuasaan yang tidak selalu datang dalam bentuk jabatan yang mengekang. Tapi dari begitu banyak perubahan budaya baru yang telah menguasai kita. Fir’aun sudah tidak ada, tapi Fir’aunisme semakin m...

tentang pernikahan

Lagi. Tentang tema itu. Tidak ada habisnya. Ya. Tema tentang pernikahan. Tema yang konon di kalangan para aktivis dakwah adalah tema yang paling menarik untuk diibicarakan. Maka tidak jarang tema-tema ini sering menghiasi kajian-kajian mereka, halaqoh-halaqoh, bahkan ada satu kajian khusus yang membahsa tema itu, kajian pra nikah. Berbicaralah kamu bahwa kamu tidak menyukai tema ini, maka dapat dipastikan bahwa kamu sedang berusaha untuk membohongi hati kecilmu. Atau kalau tidak, kamu sudah dalam masa yang tidak seharusnya membicarakan masalah ini. Yup. Sama seperti aku, kami tepatnya. Di sore itu. Disebuah sudut masjid kampus UGM. Seusai “syuting” atau syuro penting Keluarga Mahasiswa Muslim Sumatera Selatan. Pembicaraan khas cowok-cowokpun berlangsung. Kesana-kemari tentunya. Tapi ada satu hal yang aku perhatikan, bahwa semuanya ada gunanya. Jadi tidak ngrumpilah insya Alloh. Sampai waktu mau mendekati adzan. Ada satu dari kita yang menyindir tema itu. Ya. Tema tentang pernikah...

happy mother's day....

Entah, harus sampai kapan keadaan seperti ini akan terus berlangsung. Aku juga tidak tahu apakah aku sendiri yang harus memulainya. Sungguh, tidak mengenakkan berada dalam kondisi yang seperti ini. Kesunyian ini secara perlahan membunuh kreativitas untuk saling mesra dalam komunikasi kami. Aku tidak menyalahkan adat Jawa yang selama ini kami pegang. Sebuah sistem otokrasi. Sistem yang mengharuskan semua orang dalam keluarga taat dan tidak boleh ada interupsi kepada penguasa. Sekali lagi, aku tidak menyalahkan itu. Aku tahu semuanya menyanyangiku. Mungkin hanya karena adat itulah maka lidah menjadi kelu untuk mengatakan sayang, seolah diri terlalu merunduk hanya untuk mengatakan cinta. Kepada kami, dan semuanya. Maka, ketika aku berhasil meredamnya dan membuat semuanya berubah hanya dalam hitungan detik, air mataku membuncah saat itu juga. Tidak ada kata memang yang aku ucapkan melalui lidah ini secara langsung, tapi aku mencobanya dengan cara lain. Dan ternyata memang berhasil. Aku ber...

coba lagi

Hm… baru update lagi nih. Setelah sekian lama meninggalkan blogger dan berkutat di facebook. Dari bulan juni vakumnya. Wuih luar biasa banget. Ini juga belum mau nulis apa-apa. Mungkin cuma konfirmasi bahwa mungkin blog inilah yang insya Allah akan saya pakai. Nggak tahu kenapa saya suka sekali ganti-ganti blog, jadinya ya gitu, tidak ada yang maksimal. Kalau tidak percaya coba ketik aja di mbah google dengan keyword aminmusthofa, pasti akan muncul beberapa blog yang sama. Entah itu di tripod atau di blogspot. Yah, mungkin cuma itu dulu, cuma mau konfirmasi aja gitu. Doakan semoga bisa konsisten dengan blog ini. Amiiin…

bahagia vs duka

Hari ini, aku mendapati dua hal yang sangat ambivalen. Satu orang mendapati pasangan hatinya(menikah) sehingga bahagia dengan sebahagia-bahagianya, dan satunya kehilangan seorang ayah yang sangat dicintainya sehingga sedih dengan dalamnya. Ya. Aku mendapati dua kabar itu dari dua cara yang berbeda pula. Kabar bahagia aku mendapatinya langsung ketika orangnya menelepon aku, dan kabar duka aku mendapatinya ketika seorang akhwat meng-sms aku. Dua hal yang sangat ambivalen, bahagia vs duka, melalui dua cara yang ambivalen pula, langsung vs perantara. Tapi diantara keduanya ada satu benang merahnya, yaitu kedua orang itu sama-sama tidak aku kenal – Cuma tahu namanya. Yang pertama, yang mendapati puncak kebahagiannya adalah mb Nanik. Orang mengenalnya sebagai wakil (kalau tidak salah) ketua dari LDK JADDA. Bisa dipastikan dia adalah orang baik, sehingga aku meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa ia mendapati jodohnya adalah seorang ikhwan yang baik pula. Untuk mb Nanik aku mengucapkan: SELAM...

breaking news....

Ikhwah, sambut seruan ini. Berdasarkan syuro BP, BK, SC tanggal 16 Juni 2009, memutuskan Insya Alloh Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional XV (FSLDKN XV) dilaksanakan pada bulan Maret 2010, bertempat di Universitas Pattimura, Ambon, Maluku. Kebutuhan dan ditaksir mencapai 2,1 Milyar. Mari kita sukseskan FSLDKN XV untuk menuju Indonesia madani yang lebih baik dan bermartabat. Dukung melalui dana, do’a, pikiran dan kerja-kerja sebagai wujud kontribusi nyata kita. Dani Setiawan (ketua Puskomnas FSLDK).